Hari Raya Pagerwesi, Kantor hingga Sekolah di Bali Libur

Denpasar – Hari ini umat Hindhu di Bali merayakan hari raya Pagerwesi. Pada hari ini umat Hindhu melakukan pemujaan terhadap Ida Sanghyang Widi Wasa, dewa-dewa, dan pitara memohon perlindungan dan karunia untuk kesejahteraan lahir batin.

“Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta). Hari ini dirayakan mengandung filosofis sebagai simbol keteguhan iman,” kata salah satu warga Wayan Hendaryana kepada detikcom, Rabu (17/10/2018).

Pagerwesi ini berasal dari kata pager yang berarti pagar atau pelindung, dan wesi yang berarti besi, momen Pagerwesi ini digunakan sebagai momen umat Hindhu untuk membentengi diri dari segala godaan.

Sebagai bentuk ritualnya umat Hindhu melakukan persembahyangan di pura mulai pagi hingga siang hari. Sehingga hari ini menjadi salah satu hari libur keagamaan di Bali.

“Hari raya ini diperingati dengan cara melakukan persembahyangan mulai dari Sanggah/Merajan (tempat bersembahyang di lingkungan rumah tangga) hingga ke Pura lainnya di lingkungan desa maupun Pura Kahyangan Jagat lainnya,” tuturnya.

“(Kantor pemerintahan hingga sekolah) Di Bali memang diliburkan,” sambung Hendar.

Dalam momen ini ada juga warga yang mengupacarai kendaraannya serta barang-barang yang terbuat dari besi. Menurut Hendar, ini tergantung dengan pemahaman orang tersebut.

“Kalau makna sebenarnya seperti keterangan di atas. Tapi ada ada saja masyarakat yang mengupacarai sekalian kendaraannya supaya selamat dan sampai ke tempat tujuannya,” jelasnya.

Dia menambahkan Pagerwesi ini merupakan rangkaian dari perayaan Hari Suci Saraswati (dewi ilmu pengetahuan). Setelah hari raya Saraswati dan Pagerwesi rangkaian hari suci ditutup dengan upacara Tumpek Landep.

“Pengetahuan didapat saat Hari Raya Saraswati dan diperkokoh kembali saat hari raya Pagerwesi sehingga kecerdasan kebijaksanaan di mana perpaduan antara akal dan perasaan bertemu untuk bisa menimbang baik dan buruk yang berkembang di kehidupan manusia saat ini, dan nanti akan berlanjut pada rangkaian Hari Suci Tumpek Landep yang artinya landep itu runcing atau tajam dengan makna penajaman fokus dan berkomitmen untuk tetap konsisten dalam menjalani kehidupan ini,” jelasnya.

Diharapkan dengan menjalani rangkaian ini manusia bisa menyelaraskan hubungannya dengan sesama, dan juga lingkungannya. Sehingga bisa tercapai kehidupan yang seimbang.

“Tiga rangkaian hari suci diatas memberikan pemahaman akan peran pengetahuan yang menjadi penguatan kehidupan sekala (alam nyata) dan niskala (alam gaib) sehingga mencapai keseimbangan dalam diri manusia tersebut,” tuturnya.
(ams/asp)