Brumm… potensi sangar modifikasi motor

KONTAN.CO.ID – Jakarta. Banyak orang yang mengendarai motor untuk mengantarnya bepergian. Sebagai kendaraan sehari-hari, motor memang moda transportasi yang efektif. Bisa menembus kemacetan dan melalui gang-gang sempit. 

Namun, kini, banyak pula orang yang memiliki motor sebagai saluran hobi. Bagi mereka yang menggemari motor sebagai hobi, memiliki kuda besi dengan desain sesuai keinginan (custom) merupakan suatu kebanggaan. Lantas, motor modifikasi menjadi pilihan, meski harus merogoh kocek dalam.  

Fenomena ini mendorong pertumbuhan bisnis motor modifikasi. Tak hanya di Jakarta, bengkel motor modifikasi juga ditemui di sejumlah kota di Indonesia. Masing-masing bengkel mempunyai spesifikasi masing-masing. Mulai dari khusus motor matic sampai motor dengan kapasitas  mesin (CC) besar. 

Arie Indra Perkasa, pemilik Street Art Motor, melihat bisnis bengkel modifikasi motor ini masih potensial. Bahkan, hingga 10 tahun ke depan karena para produsen motor, sebut saja, Kawasaki, Ducati dan lainnya, masih aktif merilis seri motor custom

Khusus di Tanah Air, bisnis ini masih bisa terus berkembang seiring besarnya jumlah pasar dalam negeri. Sebagai bukti, bengkel Arie pun selalu kebanjiran permintaan modifikasi. “Kalau kerannya dibuka terus, sebulan bisa saja ada 20 motor (permintaan baru) masuk,” ujarnya. 

Lantaran memperhatikan kualitas pengerjaan, Arie menutup permintaan custom konsumen sampai dengan Februari tahun depan. Sebab, sampai sekarang masih ada 20 motor yang menunggu untuk dimodifikasi.   

Untuk menyelesaikan proyek modifikasi, Arie membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat bulan untuk satu motor. Namun, dengan  bantuan 15 orang tenaga yang ahli dalam rakit-merakit motor ini, dalam sebulan Street Art Motor dapat menyelesaikan sekitar lima unit motor modifikasi.

Seluruh suku cadang (sparepart) yang dibutuhkan untuk melengkapi kendaraan diambil dari pasar lokal maupun dari luar negeri. Arie pun menjalin kerjasama dengan pemasok untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. 

Tapi, mereka juga sering membuat sendiri sparepart bila memang desainnya tidak dijual di pasaran. Misalnya, tangki motor dengan model tertentu sesuai dengan selera pelanggan. 

Konsumennya pun tidak hanya berasal dari sekitar Jabodetabek, tapi datang juga dari Kalimantan, Sumatra dan Papua. Biasanya, sebelum memulai proyek, ia akan membuka sesi konsultasi. “Selalu ada konsultasi langsung agar kami bisa mengetahui keinginan konsumen seperti apa,” jelasnya. 

Umumnya, konsultasi hanya dilakukan satu kali hingga mencapai kesepakatan desain. Namun, ada juga konsumen yang melakukan konsultasi sampai lima kali, tapi tetap belum menemukan poin yang dia inginkan. 

Laki-laki yang berusia 32 tahun itu mengaku tidak ada patokan tren dalam hal modifikasi motor. Semuanya bergantung pada selera si pemilik kendaraan. 

Namun, sekitar 60% kendaraan roda dua yang masuk ke bengkelnya selalu ingin dibuat berpenampilan street tracker custom bike. Dan 40% selebihnya model-model yang lainnya seperti cafe racer chopper bike, dan lainnya.

Tarif modifikasi ini dipatok mulai dari Rp 30 juta sampai tidak terhingga, sesuai dengan keinginan para konsumen. Sayang, Arie enggan mengungkapkan total omzet yang dikantonginya per bulan. 

Reporter: Elisabeth Adventa, Sugeng Adji Soenarso, Tri Sulistiowati, Venny Suryanto
Editor: Johana K.

INDUSTRI KREATIF