Jawab Fahri soal Modal Nyapres Jokowi, PDIP Singgung Masa Lalu

Jakarta – PDIP menyinggung malpraktik di masa lalu terkait pernyataan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah soal modal nyapres Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut PDIP, pernyataan Fahri itu juga bisa dinilai dari 2 sisi.

“Pernyataan yang didasarkan pada asumsi, spekulasi dan imajinasi teoretis seperti itu sulit ditanggapi. Sebagai pernyataan deduktif, itu pernyataan yang logis. Ada unsur petahana, ada unsur nilai pembangunan infrastruktur yang besar, dan sebagainya. FH (Fahri Hamzah) membuat konklusi atas dasar malpraktik masa lalu, untuk memprediksi masa depan,” kata Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno kepada detikcom, Senin (25/6/2018).

Namun, Hendrawan tak menjelaskan secara rinci apa maksud malpraktik masa lalu yang ia katakan. Dia kemudian menilai ucapan Fahri itu dramatisasi berlebihan dan mengatakan harusnya Fahri percaya dengan transprasi serta kontrol publik dalam demokrasi.

“Tapi, itu dramatisasi berlebihan. FH harus percaya bahwa demokrasi sedang bersemi. Demokrasi adalah sistem yang berjalan bersama dengan transparansi, partisipasi, akuntabilitas dan kontrol publik,” ucapnya.

Hendrawan kemudian mempertanyakan maksud dari ucapan Fahri itu. Dia menilai Fahri mungkin sudah putus asa hingga menganggap semua lembaga negara merupakan kemah para pencuri.

“Atau FH sudah sedemikian putus asa, dan menganggap masyarakat sudah lama terlelap, dan semua lembaga negara merupakan kemah para pencuri (den of thieves)?” ujar Hendrawan.

Sebelumnya, Fahri menyebut dalam Pilpres 2019 mendatang calon presiden yang memiliki dana paling besar adalah Jokowi sebagai petahana. Pembangunan yang masif dibangun oleh Jokowi dinilai akan membuat para pemodal dengan sukarela menyumbang.

“Nanti di Pilpres ini yang paling banyak duitnya memang Pak Jokowi. Karena dia incumbent, on going project nya banyak, bayangkan ini proyek bikin jalan tol di mana-mana. Ini kan pelabuhan airport segala macem. Itu kasnya banyak. Orang-orang yang dapat fee itu kan pasti mau nyumbang kepada penguasa,” ujar Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
(haf/haf)

Sumber Berita: detik.com